Rabu, 31 Januari 2018

Kanker Paru-paru

Kanker paru-paru adalah suatu kondisi dimana sel-sel tumbuh secara tidak terkendali di dalam paru-paru (organ yang berfungsi untuk menyebarkan oksigen ke dalam darah saat menghirup napas dan membuang karbondioksida saat menghela napas). Kanker paru-paru merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum terjadi.
Meskipun begitu, kanker paru-paru termasuk salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah. Kondisi ini kebanyakan diderita oleh para perokok aktif dan pasif. Pada tahap awal, tidak ada tanda atau gejala kanker paru-paru yang jelas. Tapi kemudian gejala seperti batuk secara berkelanjutan hingga mengalami batuk darah, selalu merasa kehabisan napas, kelelahan tanpa alasan,dan penurunan berat badan akan muncul.

Penderita Kanker Paru-paru di Indonesia

Berdasarkan data WHO, kanker paru-paru adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang laki-laki Indonesia. Berdasarkan data Globocan atau International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2012, di Indonesia terdapat 25.322 kasus kanker paru-paru yang menimpa pria dan 9.374 kasus yang menimpa wanita.
Hasil penelitian pada 100 Rumah Sakit di Jakarta menunjukkan bahwa kanker paru merupakan kasus kanker terbanyak pada laki-laki, dan nomor empat terbanyak pada wanita. Angka kejadian kanker paru cukup rendah pada usia di bawah 40 tahun, dan semakin meningkat hingga usia 70 tahun.

Jenis Kanker Paru-paru yang Ada

Terdapat dua jenis kanker paru-paru primer berdasarkan jenis selnya, yaitu kanker paru-paru sel kecil (small-cell lung cancer/SCLC) dan kanker paru-paru non-sel kecil (non-small-cell lung cancer/NSCLC). Kanker paru-paru non-sel kecil berpeluang empat kali lebih sering terjadi dibandingkan dengan kanker paru-paru sel kecil.
Kanker paru-paru sel kecil (SCLC) biasanya hanya menimpa para perokok berat dan penyebarannya lebih cepat dibandingkan dengan kanker paru-paru non-sel kecil (NSCLC).

Orang Yang Berisiko Terkena Kanker Paru-paru

Merokok bisa dikatakan sebagai penyebab utama kanker paru-paru. Orang yang paling berisiko terkena kanker paru-paru adalah perokok aktif. Sekitar 85 persen kanker paru-paru dikaitkan dengan kebiasaan merokok. Meski begitu, bukan berarti setiap perokok akan terkena kanker paru-paru. Selain itu, orang yang tidak merokok juga berkemungkinan terserang kanker paru-paru, meski lebih rendah jumlahnya.
Selain rokok, beberapa penyebab kanker paru-paru lain adalah menghirup arsenik, radiasi, dan polusi udara. Kanker paru-paru juga lebih umum terjadi pada orang yang sudah lanjut usia.

Pengobatan Pada Kanker Paru-paru

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi metode pengobatan dan penanganan yang dilakukan untuk mengatasi kanker paru-paru yaitu:
  • Seberapa parah penyebaran kanker.
  • Kondisi kesehatan pasien.
  • Jenis kanker yang diderita.
Operasi pengangkatan kanker bisa dilakukan jika sel kanker belum menyebar secara luas ke bagian tubuh yang lainnya. Jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi pengangkatan, cara penanganan yang lainnya bisa diterapkan. Proses penghancuran sel kanker dengan cara radioterapi bisa dijalankan.
Kanker paru-paru umumnya tidak menimbulkan gejala sebelum sel-sel kanker tersebut menyebar ke bagian besar paru-paru atau ke bagian tubuh lainnya. Kesembuhan tergantung kepada penyebaran kanker dan kapan diagnosis kanker diketahui. Makin awal diagnosis yang dilakukan, kemungkinan pengobatan untuk berhasil juga menjadi lebih tinggi.

Asma

Asma adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas. Selain sulit bernapas, penderita asma juga bisa mengalami gejala lain seperti nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi. Asma bisa diderita oleh semua golongan usia, baik muda atau tua.
Meskipun penyebab pasti asma belum diketahui secara jelas, namun ada beberapa hal yang kerap memicunya, seperti asap rokok, debu, bulu binatang, aktivitas fisik, udara dingin, infeksi virus, atau bahkan terpapar zat kimia.
Bagi seseorang yang memiliki penyakit asma, saluran pernapasannya lebih sensitif dibandingkan orang lain yang tidak hidup dengan kondisi ini. Ketika paru-paru teriritasi pemicu di atas, maka otot-otot saluran pernapasan penderita asma akan menjadi kaku dan membuat saluran tersebut menyempit. Selain itu, akan terjadi peningkatan produksi dahak yang menjadikan bernapas makin sulit dilakukan.

Penderita asma di Indonesia

Laporan riset kesehatan dasar oleh Kementrian Kesehatan RI tahun 2013 memperkirakan jumlah pasien asma di Indonesia mencapai 4.5 persen dari total jumlah penduduk. Provinsi Sulawesi Tengah menduduki peringkat penderita asma terbanyak sebanyak 7.8 persen dari total penduduk di daerah tersebut.
Menurut data yang dikeluarkan WHO pada bulan Mei tahun 2014, angka kematian akibat penyakit asma di Indonesia mencapai 24.773 orang atau sekitar 1,77 persen dari total jumlah kematian penduduk. Setelah dilakukan penyesuaian umur dari berbagai penduduk, data ini sekaligus menempatkan Indonesia di urutan ke-19 di dunia perihal kematian akibat asma.

Diagnosis asma

Untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita penyakit asma, maka dokter perlu melakukan sejumlah tes. Namun sebelum tes dilakukan, dokter biasanya akan mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai gejala apa saja yang dirasakan, waktu kemunculan gejala tersebut, dan riwayat kesehatan pasien serta keluarganya.
Jika seluruh keterangan yang diberikan pada pasien mengarah pada penyakit asma, maka selanjutnya dokter bisa melakukan tes untuk memperkuat diagnosis, misalnya:
  • Spirometri
  • Tes Arus Puncak Ekspirasi (APE)
  • Uji Provokasi Bronkus
  • Pengukuran Status Alergi
  • CT Scan
  • Rontgen
Jika seseorang terdiagnosis mengidap asma saat kanak-kanak, gejalanya mungkin bisa menghilang ketika dia remaja dan muncul kembali saat usianya lebih dewasa. Namun gejala asma yang tergolong menengah atau berat di masa kanak-kanak, akan cenderung tetap ada walau bisa juga muncul kembali. Kendati begitu, asma bisa muncul di usia berapa pun dan tidak selalu berawal dari masa kanak-kanak.

Pengobatan asma

Ada dua tujuan dalam pengobatan penyakit asma, yaitu meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh. Untuk mendukung tujuan tersebut, diperlukan rencana pengobatan dari dokter yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Rencana pengobatan meliputi cara mengenali dan menangani gejala yang memburuk, serta obat-obatan apa yang harus digunakan.
Penting bagi pasien untuk mengenali hal-hal yang dapat memicu asma mereka agar dapat menghindarinya. Jika gejala asma muncul, obat yang umum direkomendasikan adalah inhaler pereda.
Bilamana terjadi serangan asma dengan gejala yang terus memburuk (secara perlahan-lahan atau cepat) meskipun sudah ditangani dengan inhaler atau obat-obatan lainnya, maka penderita harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Meski jarang terjadi, serangan asma bisa saja membahayakan nyawa. Bagi penderita asma kronis, peradangan pada saluran napas yang sudah berlangsung lama dan berulang-ulang bisa menyebabkan penyempitan permanen.

Komplikasi asma

Berikut ini adalah dampak akibat penyakit asma yang bisa saja terjadi:
  • Masalah psikologis (cemas, stres, atau depresi).
  • Menurunnya performa di sekolah atau di pekerjaan.
  • Tubuh sering terasa lelah.
  • Gangguan pertumbuhan dan pubertas pada anak-anak.
  • Status asmatikus (kondisi asma parah yang tidak respon dengan terapi normal).
  • Pneumonia.
  • Gagal pernapasan.
  • Kerusakan pada sebagian atau seluruh paru-paru.
  • Kematian.

Mengendalikan penyakit asma

Jika Anda kebetulan mengidap asma atau hidup dengan asma sejak lama, jangan cemas dengan kondisi ini karena asma merupakan penyakit yang masih dapat dikendalikan asalkan Anda:
  • Mengenali dan menghindari pemicu asma.
  • Mengikuti rencana penanganan asma yang dibuat bersama dokter.
  • Mengenali serangan asma dan melakukan langkah pengobatan yang tepat.
  • Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
  • Memonitor kondisi saluran napas Anda.
Jika penggunaan inhaler pereda asma reaksi cepat makin meningkat, segera konsultasikan kepada dokter agar rencana penanganan asma Anda disesuaikan kembali. Selain itu, disarankan untuk melakukan vaksinasi influenza dan pneumonia secara teratur untuk mencegah memburuknya penyakit asma yang disebabkan kedua penyakit tersebut.

Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC, adalah penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosisPenyakit ini ditularkan dari penderita TB aktif yang batuk dan mengeluarkan titik-titik kecil air liur dan terinhalasi oleh orang sehat yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.
TB termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2015, Indonesia termasuk dalam 6 besar negara dengan kasus baru TB terbanyak.
Gejala dan Jenis Tuberkulosis
TB paling sering menyerang paru-paru dengan gejala klasik berupa batuk, berat badan turun, tidak nafsu makan, demam, keringat di malam hari, batuk berdarah, nyeri dada, dan lemah. Jenis batuk juga bisa berdahak yang berlangsung selama lebih dari 21 hari.
Saat tubuh kita sehat, sistem kekebalan tubuh dapat memberantas basil TB yang masuk ke dalam tubuh. Tapi, sistem kekebalan tubuh juga terkadang bisa gagal melindungi kita.
Basil TB yang gagal diberantas sepenuhnya bisa bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB. Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis laten. Sementara basil TB yang sudah berkembang, merusak jaringan paru-paru, dan menimbulkan gejala dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif.
Penyebab dan Faktor Risiko Tuberkulosis
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Basil tersebut menyebar di udara melalui semburan titik-titik air liur dari batuk pengidap TB aktif.
Terdapat sejumlah orang yang memiliki risiko penularan TB yang lebih tinggi. Kelompok-kelompok tersebut meliputi:
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, diabetes, atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Orang yang mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi.
  • Perokok.
  • Pecandu narkoba.
  • Orang yang sering berhubungan dengan pengidap TB aktif, misalnya petugas medis atau keluarga pengidap.
Proses Diagnosis Tuberkulosis
Tuberkulosis termasuk penyakit yang sulit untuk terdeteksi. Dokter biasanya menggunakan beberapa cara untuk mendiagnosis penyakit ini, antara lain:
  • Rontgen dada.
  • Tes Mantoux.
  • Tes darah.
  • Tes dahak.
Pengobatan dan Pencegahan Tuberkulosis
Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan jika diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang dibutuhkan adalah dengan mengonsumsi beberapa jenis antibiotik dalam jangka waktu tertentu.
Sementara langkah utama untuk mencegah TB adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan.
Risiko Komplikasi Tuberkulosis
Apabila tidak diobati, bakteri TB dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan berpotensi mengancam jiwa pengidap. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:
  • Nyeri tulang punggung.
  • Meningitis.
  • Kerusakan sendi.
  • Gangguan hati, ginjal, atau jantung.

Pneumonia

Pneumonia atau dikenal juga dengan istilah paru-paru basah adalah infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru. Pada pengidap pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan membengkak dan dipenuhi cairan.
Penyakit ini juga sering disebut bronkopneumonia, pneumonia lobular, dan pneumonia bilateral. Secara umum, pneumonia dapat ditandai dengan gejala-gejala yang meliputi batukdemam, dan kesulitan bernapas.

Penderita Pneumonia di Indonesia

Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian anak-anak tertinggi di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa penyakit ini memicu 15% dari seluruh kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun. Pada tahun 2015, terdapat lebih dari 900.000 anak-anak yang meninggal akibat pneumonia.
Di Indonesia sendiri, pneumonia diperkirakan telah merenggut sekitar 25.000 jiwa balita pada tahun 2013.
Semua orang bisa terserang penyakit ini. Tetapi, pneumonia umumnya ditemukan dan berpotensi untuk bertambah parah pada:
  • Bayi serta anak-anak di bawah usia 2 tahun.
  • Lansia di atas 65 tahun
  • Perokok. Rokok tak hanya meningkatkan risiko pneumonia, tapi juga beragam penyakit lain.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, misalnya pengidap HIV atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Pengidap penyakit kronis, seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  • Pasien di rumah sakit, terutama yang menggunakan ventilator.

Faringitis

Faringitis adalah inflamasi atau peradangan pada faring, yakni salah satu organ di dalam tenggorokan yang menghubungkan rongga belakang hidung dengan bagian belakang mulut. Dalam kondisi ini, tenggorokan akan terasa gatal dan sulit menelan.
Sebagian besar kasus faringitis disebabkan oleh virus, dan beberapa kasus lainnya disebabkan oleh bakteri, seperti bakteri grup A streptococcus. Faringitis karena virus atau bakteri ini dapat menular pada orang lain. Penyebaran tersebut bisa terjadi melalui udara (misalnya menghirup butiran air ludah atau sekresi hidung yang dikeluarkan oleh penderita) atau melalui benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh virus dan bakteri.
Faringitis karena virus lebih rentan menular jika seseorang bersama penderita faringitis dalam satu ruangan dengan ventilasi yang buruk. Sedangkan faringitis karena bakteri dapat menyebar dengan cepat di lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja pada musim pancaroba.
Penyakit faringistis umumnya dapat pulih dalam waktu 3 hingga 7 hari. Penanganan dapat dilakukan melalui pengobatan mandiri di rumah atau pemberian obat dari dokter.

Gejala Faringitis

Beberapa gejala yang dapat muncul saat seseorang menderita faringitis adalah:
  • Nyeri otot.
  • Tenggorokan bengkak.
  • Batuk.
  • Badan terasa lelah.
  • Demam.
  • Pusing.
  • Mual.
  • Susah menelan.
  • Selera makan berkurang.
  • Bersin.
  • Pilek.

Penyebab Faringitis

Faringitis atau radang tenggorokan dapat disebabkan oleh beberapa hal. Dua di antaranya adalah virus dan bakteri. Beberapa jenis virus yang memicu faringtis adalah virus gondongan (mumps), virus Epstein-Barr (monocleosis), virus parainfluenza, serta virus herpangina. Sedangkan jenis bakteri yang dapat menyebabkan faringitis adalah bakteri grup A beta-hemolytic streptococcus. Bakteri ini biasanya memicu sakit tenggorokan (strep throat). Bakteri lainnya adalah bakteri penyebab infeksi menular seksual, seperti gonore dan klamidia.
Selain itu, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita faringitis, di antaranya adalah:
  • Sering menderita flu atau pilek.
  • Sering mengalami infeksi sinus.
  • Menderita alergi.
  • Sering terpapar asap rokok dalam tempat tertutup (perokok pasif).

Diagnosis Faringitis

Dokter dapat mencurigai seorang pasien menderita faringitis berdasarkan gejala-gejala yang dirasakannya dengan didukung oleh hasil pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan melihat apakah terjadi pembengkakan atau kemerahan pada tenggorokan pasien. Selain itu, dokter juga akan memeriksa kondisi telinga dan hidung, serta sisi samping leher untuk melihat adanya pembesaran kelenjar.
Untuk mengetahui penyebab faringitis, dokter perlu melakukan pemeriksaan lanjutan. Salah satunya adalah kultur bakteri dari sampel sekresi tenggorokan pasien untuk menguji keberadaan bakteri Streptococcus. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan teknis swabatau usap.
Selain tes tersebut, pemeriksaan darah (termasuk penghitungan darah lengkap) juga bisa dilakukan untuk menentukan penyebab faringitis. Jika penyebab belum diketahui, dokter dapat melakukan pemindaian dengan CT scan untuk melihat gambaran kondisi tenggorokan dan leher secara lebih detail.

Pengobatan Faringitis

Pengobatan faringitis dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika kondisi ini disebabkan oleh virus, maka penanganan mandiri dapat dilakukan di rumah guna memulihkan kondisi hingga sistem imunitas tubuh menaklukan infeksi tersebut. Misalnya dengan:
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual secara bebas, misalnya paracetamol dan ibuprofen, untuk meredakan sakit tenggorokan.
  • Banyak beristirahat.
  • Minum banyak cairan agar tidak mengalami dehidrasi.
  • Menggunakan pelembab udara di dalam ruangan.
  • Mengonsumsi kaldu hangat atau minuman dingin.
  • Berkumur dengan air garam yang hangat.
  • Mengonsumsi permen pelega tenggorokan (throat lozenges) untuk meredakan nyeri tenggorokan.
Jika penyebab faringitis adalah infeksi bakteri, dokter akan meresepkan obat antibiotik  seperti penicillinamoxicillin, erythromycin, atau azithromycin, yang bisa memusnahkan bakteri. Durasi penggunaan antibiotik yang disarankan dalam kasus ini biasanya adalah 10 hari. Pasien perlu menghabiskan obat antibiotik agar infeksi tidak berulang dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah.
Faringitis umumnya dapat pulih dalam waktu 3 hingga 7 hari. Meskipun begitu waspadalah apabila gejala tidak menunjukkan tanda-tanda pulih dalam waktu seminggu, terjadi demam yang mencapai suhu lebih dari 38 derajat Celsius selama beberapa hari dan tidak mereda meskipun sudah mengonsumsi obat, sakit tenggorokan tidak kunjung sembuh meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri, penderita memiliki sistem kekebalan tubuh lemah akibat penyakit atau penggunaan obat, sulit menelan hingga tidak bisa makan atau minum, sulit bernapas melalui mulut, mengeluarkan suara yang mengganggu ketika bernapas, atau mengeluarkan air liur secara terus menerus. Konsultasi kepada dokter sangat dibutuhkan karena dikhawatirkan itu merupakan gejala-gejala dari kondisi lainnya yang lebih parah.

Komplikasi Faringitis

Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit faringitis adalah:
  • Demam reumatik yang dapat mengganggu katup jantung.
  • Gangguan ginjal 
  • Abses pada tonsil atau jaringan lain pada tenggorokan.

Pencegahan Faringitis

Beberapa upaya yang dapat kita dilakukan untuk mencegah faringitis adalah:
  • Sering mencuci tangan, terutama sebelum makan atau setelah batuk dan bersin.
  • Menggunakan pembersih berbahan alkohol jika air dan sabun tidak ada.
  • Tidak berbagi pakai peralatan makan, minum atau mandi dengan penderita faringitis.
  • Mengindari kontak dengan penderita faringitis.
  • Menghindari paparan asap rokok dengan tidak merokok dan menghindari orang yang sedang

Penyakit tonsilitis

Penyakit tonsilitis adalah sebuah penyakit yang timbul akibat adanya peradangan dibagian tonsil (amandel).
Peradangan yang terjadi dibagian ini pada umumnya seringkali diakibatkan karena adanya virus atau bakteri yang menyerang bagian tersebut. Kebanyakan atau umumnya infeksi yang terjadi dibagian amandel ini lebih sering menyerang anak-anak yang berusia muda yakni pada usia sekitar 5 sampai dengan 15 tahun.


Penyakit ini adalah bagian dari penyakit pernapasan yang menyerang bagian tenggorokan. Dampak dari penyakit ini sendiripun cukup mengganggu dan membuat napas menjadi lebih berat dibandingkan pada kondisi yang normal. Adapun kondisi penyakit ini terjadi kadang-kadang atau seringkali kambuh pada si penderita.
Dalam dunia kedokteran penyakit tonsilitis dibagi kedalam dua bagian jenis penyakit yang dibagi berdasarkan dengan durasi berlangsungnya pernyakit tersebut. Kedua bagian penyakit tersebut adalah tonsilitis akut dan juga tonsilitis kronis.
Penyakit ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja atau diabaikan terutama bila menyerang si buah hati. Hal ini dikarenakan dampak dari penyakit ini akan mengaggu dan membuat si kecil kepayahan apalagi sifat dari penyakit ini adalah sering kambuh atau terjadi secara berulang.
Selain itu dampak yang paling sering ditunjukan pada si pasien yang menderita penyakit tonsilitis adalah demam yang menyertai gejala lainnya. Bisa dibayangkan pada saat si kecil buah hati anda seringkali mengalami demam pada saat penyakit ini kambuh maka berapa kali si kecil akan dibuat kepayahan dan lesu merasakan demam yang menyerangnya?
Belum lagi bila si buah hati anda sudah masuk usia sekolah maka kondisi ini akan membuat rutinitas sekolah dan kegiatan lain yang mereka jalani menjadi terhalang dan terhambat. Akibatnya bukan hanya pelajarannya yang tertinggal di sekolah namun juga keceriaan akan seketika direnggut dari wajah mungilnya yang ceria.
Nah, mengingat dampaknya yang begitu menganggu ibu tentu tidak tega melihat buah cinta anda terus-terusan dibuat kepayahan dengan kondisi demikian bukan? Untuk itulah sebaiknya segera atasi segala hal yang terjadi dengan si buah hati termasuk gangguan kesehatannya.


Nah, untuk mengetahui bagaimana bahaya dari penyakit tonsilitis, gejala, penyebab dan pengobatannya. Mari kita simak dibawah ini.
amandel penyebab gejala
Amandel atau tonsil adalah dua massa jaringan limfatik (sistem kekebalan tubuh) yang letaknya terdapat dibagian belakang tenggorokan kita. Selain berfungsi sebagain filter yang dapat menjebak kuman yang hendak masuk kebagian saluran pernapasan, amandel pun berfungsi untuk menghasilkan antobodi atau kekebalan tubuh yang membantu tubuh untuk melawan infeksi dibagian saluran pernapasan.
Saat seseorang baru saja dilahirkan ke dunia tonsil atau amandel ini ukurannya kecil dan secara bertahap akan mulai bertambah besar sampai usia si anak 8 atau 9 tahun. Namun setelah berlalu masa tersebut yakni di usia 11 atau 12 tahun ukuran amandel ini akan menyusut namun tidak menghilang sepenuhnya.
Akan tetapi sayangnya bagian ini begitu mudah terkena papara kuman dan bakteri sehingga ketika bagian ini terinfeksi maka terjadilah peradangan atau pembengkakan dibagian tersebut yang mana kondisi ini lebih dikenal dengan tonsilitis.
Radang amandel atau tonsilitis lebih sering menyerang dan diderita olehanak-anak dengan usia 3 sampai 7 tahun. Mengapa demikian? Sebab pada usia inilah amandel memainkan perannya dengan begitu aktif guna melawan infeksi yang akan masuk kebagian saluran pernapasan.
Dengan semakin bertumbuhnya si anak maka ukuran tonsil akan terus mengecil dan infeksi menjadi lebih kurang terjadi. Itulah mengapa dalam kasus ini, anak-anak disebut-sebut lebih rentan terkena dengan penyakit tonsilitis dibandingkan dengan orang dewasa.
Radang amandel yang menyerang biasanya tidak berbahaya terkecuali jika abses (pembengkakan dibagian tonsil tidak terus berkembang. Akan tetapi bila kondisi pembengkakan terus terjadi dan ukuran tonsil terus membesar dan menjadi lebih besar maka kondisi ini akan dapat menghambat sistem pernapasan pada si buah hati.
Perlu diketahui kondisi ini akan dapat berlangsung 4 sampai 5 kali dalam satu tahun. Yang mana bila anak anda mengalami hambatan bernapas dalam beberapa kali selama satu tahun maka bisa dibayangkan berapa kali dampak dan resiko yang akan mereka alami. Selain itu, kondisi pembengkakan dibagian tonsil ini akan juga memiciu kondisi lainnya seperti infeksi dibagian telinga dan masalah pada adenois (pembengkakan yang terjadi dibagian belakang rongga hidung atas amandel).
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa klasifikasi dari penyakit amandel ini terbagi kedalam 2 bagian yakni akut dan kronis. Untuk penyakit tonsilitis yang akut adalah penyakit yang keluhannya terjadi dan berlangsung selam akurang dari 3 minggu yang dirasakan oleh si pasien. Sementara untuk jenis tonsilitis yang kronis adalah apabila radang yang terjadi sebanyak 7 kali dalam kurun waktu satu tahun, atau 5 kali dalam kurun waktu dua tahun, atau 3 kali dalam kurun waktu satu tahun. Kondisi inilah yang patut untuk diwaspadai karena dampak yang akan dirasakan oleh si kecil akan cukup menganggu rutinitasnya.

Penyebab Penyakit Tonsilitis

Pada kebanyakan kasus penyakit tonsilitis lebih sering menyerang anak-anak pada usia Sekolah Dasar. Penyebab paling umum dari timbulnya penyakit ini adalah diakibatkan oleh adanya serangan virus.
Adapun beberapa virus yang dapat menyebabkan kondisi tonsilitis terjadi pada si penderita diantaranya adalah virus influenza (flu) dan virusEpstein-Barr (EBV). Perlu anda ketahui beberapa jenis virus tersebut adalah virus yan juga menjadi penyebab mononucleosis, atau "mono". Beberapa jenis bakteri juga bisa menyebabkan radang amandel. Adapun untuk jenis bakteri yang lebih sering menyebabkan amandel diantaranya adalah organisme yang sama yang menyebabkan adanya radang tenggorokan.
Radang amandel atau tonsilitis yang disebabkan oleh radang tenggorokan pada anak-anak hanya terjadi sekitar 30% dan kurang terjadi pada orang dewasa. Untuk sebab itu maka sebaiknya orangtua perlu menjadi amat waspada pada saat si kecil didiagnosa mengalami radang tenggorokan agar jangan sampai bakteri yang sama penyebab dan menimbulkan radang amandel untuknya.
Bukan hanya itu, terkadang kuman pun bisa menjadi penyebab dari penyakit yang satu ini. Kuman ini biada ditularkan melalui kontak biasa dengan oranglain, seperti halnya melalui tetesan di udara akibat bersin atau batuk. Pada kasus ini penderita yang bersin atau batuk mengeluarkan cairan atau aerosol yang menyebar di udara dan terhisap oleh orang lain yang sehat. Akibatnya kuman masuk dan menyebar dibagian tenggorokan hingga kebagian tonsil. Selain itu penularan kuman juga dapat terjadi akibat adanya kontak oral (mulut), terutama pada kasus EBV (yang mana mono pun sering disebut dengan "penyakit ciuman").
Pada kasus ini amandel akan bekerja untuk melawan virus dan bakteri yang masuk kedalam tubuh melalui hidung atau mulut seseorang. Hasilnya adalah timbulnya infeksi dibagian amandel yang kemudian menimbulkan bagian tersebut mengalami pembengkakan atau kenaikan ukuran volume tonsil akibat adanya infeksi pada akhirnya kondisi ini akan dapat menimbulkan peradangan dan menimbulkan rasa sakit yang cukup menyiksa.
Selain itu sebuah data menunjukan bahwa sekitar 70% penyakit tonsilitis yang terjadi dan menyerang anak-anak diakibatkan oleh adanya infeksi virus, begitu pula dengan infeksi virus yang terjadi pada orang dewasa dengan persentasi hampir 90%. Pada golongan ana-anak hampir sebanyak 30% penyebab penyakit radang amandel diakibatkan oleh adanya bakteri adapun jenis bakteri yang menyerang adalah jenis Streptococcus hemolitikus, sementara pada orang dewasa kasus ini hanya dijumpai sebanyak 10%.

Beberapa Daftar Virus dan Bakteri yang Dapat Memicu Tonsilitis:

  • Virus herpes simplex
  • Bakteri streptococcus pyogenes
  • Bakteri hemolitikus
  • Adenovirus
  • Virus Epstein-Barr
  • Virus Influenza
  • Enterovirus
  • Virus parainfluenza
Umumnya mereka yang mengalami tonsilitis akan mengalami sakit kepala, nyeri dibagian tenggorokan ketika menelan, batuk dan juga demam. Gejala ini umumnya akan dapat pulih kembali dalam empat hari.
Meskipun sebagian besar kasus tonsilitis tidak tergolong kedalam penyakit yang serius, akan tetapi sebaiknya temuilah dokter jika anda atau si buah hati mengalami gejala yang berlangsung lebih dari empat hari atau ketika si penderita tidak menunjukan tanda-tanda pemulihan atau bahkan kondisi ini malah semakin parah yang membuat mereka bahka merasakan kesulitan bernapas.

Gejala Radang Amandel

Sama halnya seperti kasus pada penyakit-penyakit lainnya. Penyakit tonsilitis ini tidak terjadi dengan tiba-tiba atau mungkin menyerang dengan cepat dan berkembang menjadi penyakit tonsilitis yang akut yang harus segera mendapatkan pertolongan medis. Selalu muncul tanda atau ciri yang mengawali datangnya penyakit ini.
Sayangnya keterlambatan diagnosa yang dialami oleh sebagian besar penderita umumnya dikarenakan karena si penderita yang enggan memeriksakan kesehatannya ke dokter. Atau dalam kasus ini bila penyakit tonsilitis menyerang anak-anak biasanya orangtua kurang teliti atau kurang cekatan dalam mendeteksi penyakit atau gagguan kesehatan yang menyerang buah hatinya.
Nah, untuk mengetahui gejala apa saja yang bisa mencirikan timbulnya penyakit tonsilitis dalam tubuh si penderita, berikut ini adalah beberapa gejala yang mungkin dirasakan.
  1. 1. Timbulnya pilek, batuk, suara serak, mulut berbau, nyeri dibagian perut dan adanya pembesaran kelenjar getah bening yang terdapat di sekitar bagian leher. Kondisi ini pada umumnya mengindikasikan bahwa bagian tonsil mengalami pembengkakan dan harus segera dikonsultasikan ke dokter.
  2. 2. Perasaan nyeri yang dialami oleh si penderita pada saat ia hendak menelan makanan atau minuman. Bahkan dalam kasus yang lebih parah, menelan ludah sekalipun akan dapat menimbulkan perasaan nyeri. Pada kasus ini biasanya si penderita akan menghadapi kondisi malas makan akibatnya kurangnya asupan gizi dan nutrisi dari makanan.
  3. 3. Ketika diperiksakan ke dokter, terdapat pembengkakan dibagian tonsil atau amandel. Selain itu pembengkakan ini akan juga disertai dengan warna merah dibagian tonsil yang terkadang disertai dengan adanya bercak putih atau eksudat dibagian permukaan tonsil dan adanya warna merah sebagai tanda adanya peradangan dibagain tenggorokan dan tonsil.
  4. 4. Timbulnya perasaan kering dibagian tenggorokan atau seperti ada yang mengganjal dibagian leher yang dialami oleh si penderita. Hal ini diakibatkan oleh pembengkakan tonsil yang semakin membesar.
  5. 5. Timbulnya perasaan nyeri otot, lemas, mengigil, demam dan juga sakit dibagian kepala.
  6. 6. Rasa nyeri yang ditimbulkan dari penyakit tonsilitsi pada umumnya akan dapat menjalar hingga kebagian telinga dan juga bagian leher.
Beberapa gejala diatas adalah segelintir tanda atau ciri yang mungkin akan dialami oleh si penderita bila rupanya timbul peradangan atau pembengkakan pada bagian tonsilnya. Ketika si penderita mulai merasakan satu atau beberapa gejala diatas sebaiknya segera konsultasikan kondisi ini ke poli THT untuk dilakukan pemeriksakan lebih lanjut mengenai kondisi tersebut.
Pemeriksakan lebih dini akan dapat menyelamatkan penderita dari kondisi yang lebih buruk. Pada kondisi yang lebih buruk, penanganan tonsilitis yang sudah membesar dan membengkak biasanya akan dilakukan operasi untuk mengangkat tonsil yang membengkak.

Diagnosis Penyakit Tonsilitis (Radang Amandel)

Dalam hal mendiagnosis tonsilits pertama-tama dokter akan mulai memeriksa bagian tenggorokan anda, sekaligus dokter akan mulai mengajukan pertanyaan perihal gejala apa saja yang dirasakan oleh si penderita selama ini. Ketika anda memutuskan untuk berkonsultasi atau melakukan pemeriksakan gangguan pada tonsil maka poli kesehatan yang bisa anda kunjungi adalah poli THT.
Apabila rupanya tonsilitis yang dialami penyebabnya adalah akibat adanya infeksi bakteri, biasanya gejalanya dapat berupa pembengkakan kelenjar getah bening dibagian tenggorokan, demam namun tidak batuk dan munculnya bercak nanah pada bagian sekitar amandel.
Sementara itu bila tonsilitis yang dialami disebabkan oleh adanya infeksi virus, biasanya gejala yang akan dirasakan oleh si penderita adalah berupa kondisi yang lebih ringan, namun disertai dengan pilek dan batuk.
Selain beberapa pemeriksakan diatas, tes lebih lanjut di laboratorium seperti halnya tes darah, biasanya diperlukan oleh dokter guna memastikan apakah si pasien yang bersangkutan juga menderita gangguan kesehatan lain atau tidak, contohnya seperti demam kelenjar. Adapun tes laboratorium yang dilakukan oleh pasien yang memiliki resiko tinggi akan sanagt dibutuhkan, seperti misalahkan mengetahui apakah si pasien mengalami sistem kekebalan tubuh yang rendah atau tidak.

Pengobatan dan Pencegahan Tonsilitis (Radang Amandel)

Pada umumnya sebagian besar kasus tonsilitis akan dapat sembuh atau membaik pada kondisi semula selama kurang lebih 1 minggu. Pada kasus penyakit ini sebenarnya tidak ada obat khusus yang dibuat untuk menangani penyakit radang amandel agar kondisi yang dirasakan bisa membaik dan membuat tonsil atau amandel bisa kembali pada kondisi sediakala. Obat yang diberikan dan diresepkan oleh tim medis biasanya hanya difungsikan guna meringankan gejala yang dialami agar si pasien bisa merasa lebih baik dan dapat kembali menjalani rutinitasnya.
Adapun jenis obat-obatan yang diberikan kepada di pasien biasanya akan berupa parasetamol atau ibuprofen sebagai obat pereda rasa sakit yang dialami. Akan tetapi selain dengan menggunakan obat, pemulihan bisa ditunjang dengan mendapatkan istirahat yang cukup dan banyak mengkonsumsi cairan agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Pada kasus penyakit tonsilitis yang parah dan kerap kambuh, biasanya adokter terpaksa akan melakukan operasi pengangkatan amandel untuk mengatasi hal tersebut. Dengan demikian bila peradangan dan pembengkakan yang terjadi rupanya menyerang kedua bagian amandel, maka kedua bagian tersebut akan diangkat melalui jalan operasi.
Sebenarnya tonsilitis atau radang amandel akan dapat dicegah. Pencegahan yang dilakukan pun bisa diterapkan sendiri dirumah. Dalam kasus ini bila buah hati anda rentan mengalami penyakit ini maka orangtua perlu mengarahkan dan mengajarkannya dengan baik.
Ajarkan anak untuk rajin mencuci tangan sebelum makan atau selepas dari kamar mandi, kenakan tisu untuk menutup hidung atau mulut mereka saat bersin ataupun batuk.

Influenza Pencegahan dan Cara Mengatasinya

 Influenza (flu) merupakan jenis penyakit menular akibat serangan virus influenza, yang menyerang sistem pernafasan: hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Tingkat keparahan flu beragam, bisa tidak berbahaya (tingkat ringan), berat (cukup parah), bahkan sampai bisa menyebabkan kematian. Masa inkubasinya adalah dua hari dan infeksinya sendiri bisa berlangsung selama satu minggu.
Gejala utama flu adalah menggigil, demam (lebih dari 38oC), sakit tenggorokan, nyeri sendi dan otot (terutama di punggung, tangan, dan kaki), pusing, sakit kepala, batuk (batuk kering), pilek, bersin-bersin, tubuh lelah/letih. Flu pada anak-anak seringkali menyebabkan pusing dan muntah.
Orang tua, anak-anak, wanita hamil, orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, orang yang tidak terlalu baik kondisi kesehatannya (menderita penyakit tertentu), orang yang sering melakukan kontak langsung dengan penderita flu, dan orang yang tinggal di lingkungan yang tidak bersih adalah mereka yang paling beresiko terkena komplikasi serius akibat flu. Musim hujan dan kondisi cuaca yang tidak menentu merupakan saat yang paling sering terkena serangan flu. Mereka yang beresiko tinggi tersebut harus mendapatkan perawatan dan penanganan segera bila terserang flu untuk mencegah berbagai komplikasi yang serius dan berbahaya.


Pencegahan
Salah satu cara terbaik untuk mencegah flu adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar daya tahan tubuh meningkat dan mampu melawan serangan virus flu. Cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah dengan selalu menjaga pola hidup sehat seperti makan makanan sehat dan bergizi, berolahraga, cukup istirahat, dan bisa juga dengan vaksinasi. Dalam dunia medis saat ini sudah diperkenalkan vaksinasi flu untuk orang usia 6 bulan ke atas. Para ahli menyarankan agar vaksinasi flu dilakukan setiap tahun karena cepatnya kemampuan virus flu untuk berubah sehingga menjadi lebih resisten. Efektivitas vaksinasi dalam mencegah penyakit flu bisa mencapai 70 – 90 %.
Orang yang sangat dianjurkan untuk mendapatkan imuniasai flu adalah anak-anak, wanita hamil, orang yang menderita penyakit tertentu seperti penyakit asma, HIV, diabetes, jantung, paru, dan orang tua terutama mereka yang berusia lebih dari 65 tahun ke atas.
Orang yang tidak boleh diberikan vaksinasi flu adalah anak bayi usia 6 bulan ke bawah, orang yang alergi khususnya alergi telur dan produk olahannya, orang yang menunjukkan reaksi alergi terhadap vaksin flu, dan orang yang menderita Guillain-Barré syndrome (keanehan pada sistem imun dan saraf tubuh).
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan flu adalah:
  • Rajin mencuci tangan terutama. Jangan sembarangan memasukkan tangan ke mulut. Cucilah tangan dengan benar menggunakan sabun atau alkohol. Gosok-gosok tangan bagian dalam, luar sampai pergelangan tangan dengan sabun selama 15 detik, lalu bilas dengan air bersih.
  • Hindari (menjauh) dari orang yang terkena flu. Flu merupakan penyakit yang sangat cepat menular lewat udara terutama saat bersin dan batuk. Untuk orang yang sedang flu, sebaiknya menggunakan masker penutup mulut dan hidung agar tidak menyebarkan virus flu ke orang lain. Saat batuk dan bersin, tutup mulut dan hidung menggunakan tisu, lalu buanglah tisu ke tempat sampah setelahnya.
  • Flu juga bisa menular lewat kontak (sentuhan) tangan orang yang terinfeksi virus flu atau lewat kontak dengan benda yang telah dipegang penderita. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk selalu rajin mencuci tangan dengan sabun agar memperkecil kemungkinan tertular penyakit flu.
  • Flu tak hanya bisa masuk ke dalam tubuh lewat mulut, bisa juga lewat hidung dan mata. Oleh sebab itu, bila Anda habis melakukan kontak langsung dengan penderita flu, hindari menggosok-gosok mata dan hidung untuk mencegah penularannya.
  • Jika Anda terserang flu, sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah untuk mencegah kemungkinan Anda menularkan virus flu ke orang lain di sekitar Anda. Istirahatlah di rumah karena istirahat sangat dibutuhkan bagi tubuh agar bisa pulih kembali.


Pengobatan
Flu yang menyerang seseorang yang masih muda dan tidak sedang menderita penyakit kronis tertentu biasanya bukan merupakan hal yang serius. Beberapa kasus flu bisa sembuh dengan sendirinya selama satu atau dua minggu tanpa obat dan perawatan medis. Saat seseorang terserang flu, hal yang paling dibutuhkan adalah istirahat agar sistem kekebalan tubuh bisa bekerja untuk melawan virus flu, cairan yang banyak, dan pasokan gizi yang baik dan cukup.
Untuk kasus flu yang menyerang anak-anak (termasuk bayi), orang tua, dan orang yang menderita penyakit tertentu, perlu dilakukan penanganan medis seperti pemberian obat agar terhindar dari komplikasi berbahaya yaitu pneumonia, bronkitis, infeksi sinus, infeksi telinga dan kematian.
Penyakit flu disebabkan oleh virus. Oleh karena itu, dalam pengobatannya sebaiknya diberikan obat antivirus bukan antibiotik (yang khusus mengobati infeksi akibat bakteri). Obat antivirus flu misalnya oseltamivir (Tamiflu) yang dikonsumsi 2 hari setelah gejala pertama muncul dapat meringankan sakit yang diderita (mencegah timbulnya komplikasi serius) dan mempercepat proses penyembuhan.
Penderita flu juga bisa meminum obat penurun panas untuk menurunkan gejala demam seperti ibuprofen atau parasetamol, namun ingat hindari aspirin pada anak-anak karena dapat memicu timbulnya penyakit serius yaitu Reye Syndrome, penyakit yang jarang namun cukup serius, menyerang hati dan otak dengan gejala sering muntah, sering lesu, dan mengantuk, mudah marah, perilaku agresif, kejang, hilang kesadaran dan pada bayi timbul diare, pernafasan cepat.


Siapa yang harus segera berobat ke dokter bila flu?
Jika Anda termasuk orang dengan resiko tinggi mengalami komplikasi berat akibat flu (anak-anak, orang tua, wanita hamil, orang yang menderita penyakit tertentu, orang yang kekebalan tubuhnya lemah) segeralah berobat ke dokter bila Anda mendapati gejala-gejala flu agar resiko dan tingkat keparahannya bisa dikurangi.
Selain itu, bila Anda :
  • menderita demam sangat tinggi atau demam dengan ruam
  • mengalami kesulitan bernapas atau napas cepat
  • warna kulit kebiruan
  • tampak sangat mengantuk dan lesu
  • gejala flu tidak mereda setelah beberapa hari bahkan menjadi semakin parah
Anda juga harus segera berobat ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.